Mengejar Blue Fire, Tersedak Asap Belerang Kawah Ijen

Posted on

Siang itu, setelah puas sebelumnya mengeksplore Bali, aku berlanjut menuju Banyuwangi. Destinasi awal yang ingin aku kunjungi adalah Kawah Ijen, Baluran dan Menjangan.

Transportasi Dari Bali Menuju Banyuwangi

Dari Bali, kami naik travel, sebelumnya aku nyari info untuk naik bus tapi kayanya kurang efisien dikarenakan harus turun naik bus, jadi akhirnya aku putuskan untuk naik travel dengan dijemput langsung dari penginapan. Pagi itu temanku satu orang memutuskan untuk pulang duluan ke Jakarta dan aku berdua sama @gieh14 kawanku melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi.

Hujan lebat mengiringi perjalanan kami pagi itu, manunggu jemputan dan aku sudah bersiap sedari pagi. Jam 09.00 tibalah mobil yang akan mengantarku menuju Banyuwangi. Di perjalanan lumayan melelahkan karena harus menjemput satu persatu penumpang dan lumayan menguras banyak waktu.

Syukurlah, menjelang siang hujan mulai menghilang perlahan dan berganti cerah.

Kawanku adalah orang yang sangat memperhatikan persiapan, apalagi masalah konsumsi, sudah siap sedia untuk menemani perjalanan kami. Dan kali ini aku melahap satu butir antimo karena memang sedang tidak enak badan. Alhasil tertidur lelap disepanjang jalan, dan terbangun pas jam makan siang di perjalanan, oia makan siang tidak termasuk dalam biaya travel tadi ya, jadi kamu harus bayar sendiri ketika makan disini.

Usai makan, perjalanan dilanjutkan dan kembali tertidur, memang antimo mujarab sekali membuatku ngantuk tak tertahankan.

Kembali terbangun saat tiba di Gilimanuk untuk menyeberang ke Pelabuhan Ketapang di Banyuwangi.

pelabuhan ketapang banyuwangi
pelabuhan ketapang banyuwangi

Kondisi pelabuhan sedikit sepi, jadi tak lama nunggu antrian penyeberangan. Di kapal aku duduk di deck paling atas dan memesan kopi hangat untuk membuat suasana semakin santai. sekitar 30 menit, tiba di Ketapang, dan kami minta di dropp di Stasiun Karang Asem Banyuwangi. Karena dari beberapa artikel dan informasi yang kudapat bahwa di sekitar Stasiun banyak homestay yang bisa disewa untuk melepas lelah.

Stasiun Karang Asem Banyuwangi
Stasiun Karang Asem Banyuwangi

Tiba di Stasiun Karangasem, Kawanku menelpon Mas Agus, pengelola homestay yang nomornya kami dapat dari internet dan rekomended. Mas Agus ini petugas parkir di Stasiun dan Pengelola @ijen_traveller. Jadi keberuntungan bagi kami yang sudah dibantu banyak oleh Mas Agus ini.

 

Homestay Mas Agus, Ijen Traveller
Homestay Mas Agus, Ijen Traveller

Homestay yang lumayan nyaman untuk backpacker dan Motor yang bisa disewa untuk kami pakai selama di Banyuwangi.

Bertemu Teman Baru, Mendapat Pengalaman Baru

Seperti biasa, kawanku selalu gerak cepat untuk mengakrabkan diri dengan orang baru. Di homestay usai kami check in, aku hanya sekedar bereskan bawaan dan rebahan. Kawanku tetiba sudah ngobrol saja dengan orang baru yang baru ia temui. Dan aku dipanggil untuk kemudian berkenalan.

Teman baru kami adalah @onaonne dan @c.iva.

Onne adalah solo traveller dari Jakarta, ia sengaja datang ke Banyuwangi dengan niat mau explore Banyuwangi. Tapi dengar cerita kebanyakan hujan dan lebih banyak aktifitas di homestay. Dia cuma mengunjungi Baluran dan Pantai Terdekat dengan homestay, aku lupa nama pantainya apa.

Iva, mahasiswi dari Semarang yang juga Solo Traveller juga. Hebat memang dua cewek ini. Iva sudah stay 2 hari dan sudah explore sebagian Banyuwangi.

Menjelang malam, kami berempat mencari kuliner khas Banyuwangi yaitu Sego Pitik. Dan sampailah kami di Desa Osing buat makan Sego Pitik.

Sego Pitik adalah nasi dan ayam muda dengan taburan kelapa, unik dan enak. Memesan kemudian makan, disini juga hampir lupa waktu kami mengobrol berbagi pengalaman dan informasi mengenai tempat-tempat keren di Indonesia.

Sego Pitik Makanan Khas Banyuwangi
Foto : @gieh14

Sadar belum istirahat sejak tiba dari Bali, kami pun bergegas pulang dan sebelumnya mampir beli Ayam Goreng tepung seperti biasa kawanku bilang buat jaga-jaga kalo nanti kelaparan, dan ternyata benar bermanfaat.

Karena Iva, Onne juga belum ke Ijen kami ajak serta untuk jalan bersama, namun Onne memilih untuk tidur karena merasa tidak kuat dan besok harus kembali pulang mengejar penerbangan pagi.

Menerabas Hujan Menembus Kabut Dan Gulitanya Malam

Rasanya pengen istirahat, tidur dahulu tapi takut kebablasan akhirnya mengisi waktu dengan bebenah perlengkapan yang akan dibawa untuk trekking Ijen. Antusiasme Api Biru atau Blue Fire menggebu, dan gerimis perlahan mengepul bersama angin malam, dan hawa dingin mulai terasa di badan.

22.30 Start perjalanan, aku dan Inggih dan Iva satu motor sendiri kami beriringan. Dengan bekal yang sudah disiapkan dan memaksakan pergi meski gerimis, bodohnya tidak memeriksa jas hujan ada atau tidak. Dan ternyata di tengah perjalanan hujan deras.

Kami pun menepi, sempat galau antara lanjut atau tidak. Hujan deras sekali, sementara perjalanan masih jauh. Sedikit menunggu reda namun semakin lama malah semakin deras, tak habis akal agar perjalanan tetap berlanjut akhirnya aku pereteli beberapa baju yang sekiranya harus dikorbankan untuk basah-basahan. Dan sebagian baju dan jaket aku siapkan masukan ke jok motor agar tetap kering.

Di perjalanan akhirnya kami menemukan warung yang masih buka di tengah malam dan menjual jas hujan tipis dan kami pun beli akhirnya sedikit terbantu perjalanan kami berlanjut.

Jalan berliku, tanpa bisa melihat google map karena hujan. Kami menerabas kabut dan malam yang gulita, sadar ini tengah malam di saat orang tertidur lelap, kami malah berkeliaran di jalan. Luar biasa sih kalo diingat setelah trip, bahwa rintangan ternyata bisa dilewati loh kalo ada niat dan usaha. Seperti halnya masalah hidup juga seperti itu.

Kami tiba di pos pukul 00.30, menggigil kedinginan. Dan aku berganti pakaian yang kering untuk kembali memulihkan tangan dan badan yang hampir kelu dan beku.

Menunggu buka posko naik pukul 01.00 kami berkumpul di api unggun yang tersedia di warung-warung dan mengeringkan kaos kaki dengan panas api. Dan di jam segini hanya ada beberpa orang saja yang sudah tiba, tidak terlalu ramai. Dan hujan sudah reda ketika kami tiba di posko.

Drama Kebelet Boker dan Kesedak Asap Belerang

01.30 dini hari kami mulai menanjaki setapak perjalanan menuju Kawah Ijen, masih sepi belum banyak orang. Senter sudah siap dan perjalanan dimulai perlahan.

Di awal belum terlalu menanjak, trekking nya pun sebenarnya tidak seperti mendaki gunung karena jalurnya sudah terbuka, bahkan tersedia angkutan yang disebut “Taksi” untuk sampe puncak.

“Taksi” ini dioperasikan oleh 2 orang, dengan komposisi dua orang di depan yang menarik dan satu orang di belakang bertugas mendorong. Penumpangnya naik ke taksi tersebut. Eits.. jangan membayangkan taksi kendaraan bermotor ya, karena taksi disini adalah sebuah gerobak yang ditarik dan didorong oleh manusia. Mengenai tarif, pernah nanya Sekitar 800.000 untuk naik dan 500.000 untuk turun. Yang kelelahan atau tidak kuat bisa memakai jasa mereka untuk tiba di puncak.

Iva powernya masih stabil sementara aku dan kawanku mulai menyusut kelelahan efek belum istirahat sejak perjalanan dari Bali. Tapi semangat untuk melihat Api Biru mengalahkan rasa lelah.

Aku sedikit-sedikit berhenti, minum dan sedikit beser pengen kencing. Dan mulai rame sekali orang-orang menyalip kami. Suasana yang tadinya sepi berganti menjadi sangat ramai. Dan mayoritas adalah warga negara asing, mungkin sekitar 10 % nya wni, entah mungkin saat itu di weekday atau memang setiap hari seperti itu.

Okeh perlahan, dengan hampir putus asa karena dingin dan bau asap belerang kami tiba di Puncak Ijen. Kupikir sudah selesai, ternyata untuk melihat Blue Fire aku harus kembali melewati turunan. Di puncak awalnya kami masih memakai masker bawaan dengan sedikit ditutup syal, namun belerang makin menyengat dan akhirnya aku menyewa masker untuk keamanan.

Tips : Sewa masker yang aman, yang dijajakan untuk kenyamanan dan keselamatan. Harga sewa Rp. 20.000

Disini sebenarnya aku sudah tidak ambisius lagi untuk melihat blue fire sudah lelah sekali. Dalam hati sudah cukup sampai puncak saja, sempat aku tanya kawanku, masih mau lanjut ? dan ia jawab “nanggung udah sampe sini”, baiklah.. perlahan tangga bebatuan dengan berdesakan. Dari sini kemudian Iva izin duluan katanya mau nyari spot kencing kebelet karena sudah terlalu ramai dan jalanan sempit. Sesekali antrian terjadi..

Tak lama, sudah hampir di bawah aku dan inggih istirahat dan katanya dia kebelet boker. Waduh gimana, disitu ada batu besar dan aku sarankan coba kamu pup dibalik batu itu aja. Mungkin udah saking kebeletnya ya kan, daripada cepirit dia akhirnya memaksakan untuk boker di dekat batu itu, dan aku menjaga agar tidak ada orang lewat dari jalan sebelah kanan.

Pas Inggih lagi jongkok, tiba-tiba rombongan bule lewat ke jalan persis yang Inggih lagi jongkok, antara pengen ketawa tapi lelah jadi cukup berdiam saja sambil tetap so cool seolah gak ada apa-apa.

Kusodorkan air mineral yang kubawa, buat dia bersih-bersih dan kembali ke barisan antrian untuk kembali turun.

Begitu kami antri, bule-bule berseliweran ke tempat tadi Inggih boker. Feeling sih itu eeknya keinjek-injek. Untung baunya jadi samar karena kalah sama bau belerang hahaha..

Oke, minum dan antri. Disini asap semakin tebal, mata perih gak bisa melihat. Inggih nafasnya mulai tersengal dan pandangan sama sekali tidak bisa terlihat. Iva entah sudah dimana akhirnya kami putuskan untuk kembali naik ke puncak.

Setelah kejadian ini, ternyata Inggih pun berfikiran sama sepertiku yang sudah tidak ambisi lagi untuk melihat blue fire. Dan sudahlah, kami kembali dan beristirahat di puncak menunggu sunrise.

Kedinginan, kami berlindung dari gundukan tanah, sarung sudah jadi selimut dan ransel menjadi bantalnya. Ah memandang langit ternyata begitu cerah dengan gemilang bintang yang memesonakan mata.

Sunrise pun muncul perlahan, banyak orang yang memilih hanya sampai puncak, tidak ikut melihat blue fire. kemudian berfoto dengan latar belakang kawah ijen yang terlihat hijau. Luar biasa sangat mempesona.

Kawah Ijen Banyuwangi
Kawah Ijen Banyuwangi

Tak lama, Iva pun muncul dari bawah, konon blue fire nya tidak nampak jadi cuma bisa pipis aja katanya di bawah. alhamdulillah beruntung aku tak melanjutkan perjalanan sampe bawah tadi.

Sebenarnya setelah dari sini, Iva mengajak ke destinasi lain yang aku lupa namanya. Namun karena aku dan inggih sudah berencana menuju Baluran akhirnya kami putuskan turun duluan, dan berpisah dengan Iva sampai disini.

Tambahan Informasi 

Menurut Mas Agus, waktu terbaik untuk melihat Blue Fire adalah saat musim bulan purnama, hampir tidak ada asap dan kabut.

4 thoughts on “Mengejar Blue Fire, Tersedak Asap Belerang Kawah Ijen

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *